Sabtu, 09 Februari 2013

Kadang Tak Perlu Kata, Tapi Rasa



Aku takkan pernah mengatakannya. Meski bagi beberapa orang tidaklah salah dan tidaklah sulit mengatakan apa yang kita rasakan. Tapi tidak bagiku. Bahkan bagiku itu semacam prinsip. Dan prinsip itu tidaklah berlebihan.

Biarkan rasa terus mengalir di hati dan pikiranku. Rasa terbaik dan terindah untukmu, akan selalu ada meski kamu tidak tahu, atau mungkin kamu tahu tapi berpura-pura tak tahu. Ah, apapun itu biarkan rasa ini selalu untukmu. Setidaknya untuk saat ini dan sampai batas waktu yang aku sendiri tak dapat menentukannya. Buatku, satu kata atau sebait kalimat takkan berarti apa-apa tanpa rasa yang tulus.

Selasa, 05 Februari 2013

Terkadang Bukan Tidak Mau Tapi Tidak Bisa Ataupun Sebaliknya

“Maaf, aku yang memulai tapi aku yang menghindar. Tapi hari ini, kita perlu bicara, dan menyelesaikan semuanya.” Katamu ketika akhirnya kita berkesempatan duduk berdua kembali.

Kamu, sahabat terbaik yang aku punya. Tapi kamu juga yang pada akhirnya merubah rasa sayang seorang sahabat menjadi cinta layaknya sepasang kekasih. Bukan cuma kamu yang merasakannya, tapi ku rasa aku juga.

Malam ini kita berbagi segalanya, banyak hal yang telah lama tak terbagi ketika kita sama-sama menghilang, mencoba memahami perasaan masing-masing.

Dan malam ini semua telah tersampaikan, tapi kita tetap berakhir pada hubungan persahabatan. Yaaa… aku dan kamu, kita, terlalu menjunjung tinggi prinsip masing-masing, untuk tidak akan bersama menjadi sepasang kekasih apapun yang terjadi. Tapi, kita juga sama-sama tahu pasti, alasan hubungan kita tak bisa berubah tidak hanya sebatas itu.

Minggu, 13 Januari 2013

Tak Perlu Banyak Bicara. Biarkan Doa yang Bekerja.



Banyak yang sayang kamu, banyak pula yang peduli kamu. Banyak yang mau menjadi pendengar ceritamu, banyak pula yang menjadi penyemangatmu. Dan diantara banyak orang itu, ada aku. Entah sebagai siapa kamu menganggap aku. Tapi kamu adalah salah satu orang yang cukup berarti dalam hidupku.

Sudah banyak kalimat-kalimat terbaik yang disampaikan oleh banyak orang itu untuk kamu, untuk hidupmu, untuk pilihanmu. Sudah banyak tawa, air mata, pelukan, dan jabat tangan yang mereka berikan untuk kamu. Sementara aku… hanya diam disini, di tempat yang siapapun tak perlu peduli, termasuk kamu.

Aku yang mungkin punya kalimat terbaik yang sama seperti yang mereka sampaikan. Aku yang mungkin masih ingin berjabat tangan, berpelukan, dan berbagi cerita denganmu. Tapi aku bertahan disini. Mungkin memang karena beberapa alasan, bahkan mungkin memang karena aku tak ingin bertemu denganmu, saat ini. Walau besok, lusa, atau entah sampai kapan kita tak pernah tahu kapan kita bisa bertemu lagi.

Yang aku tahu, dan aku percaya, kapanpun waktu kita akan dipertemukan kembali, kita pasti akan sampai pada waktu yang masih tak jelas itu. Aku dan kamu. Dengan cerita terbaikmu, dengan senyum terindahmu. 

Dalam diam dan dalam ketidakpedulian yang samar, aku akan berdoa untuk kamu. Selalu. Ada doa terbaik untuk orang tersayang. Ada doa terindah untuk orang yang berarti. Biarkan doa itu bekerja. Dan percayai hasilnya adalah yang terbaik.

Rabu, 02 Januari 2013

Kepada Rindu




Malam telah menjemput, mata ingin segera tertutup untuk pergi ke alam mimpi. Tapi sesosok bayangmu muncul dalam pikiran. Aku berusaha tidak mengingatmu belakangan ini. Mungkin lebih tepatnya aku menjerumuskan diri di kesibukan pekerjaan untuk melupakan sosokmu, untuk melupakan rasa rindu yang setiap hari datang. Rasa rindu yang setiap hari cukup menyiksa. Karena rasa rindu itu sulit untuk diobati.

Aku dan kamu yang terpisah jarak dan waktu. Aku dan kamu yang dianugerahkan rasa. Rasa terbaik  dan terindahku untukmu, tapi sepertinya tidak kamu untukku. Maka, hanya berpasrah diri jika si rindu datang menghampiri. Sekuat apapun usaha untuk menolaknya, ketika rindu datang jangan pernah tolak dia. Meski kamu tak merinduku, tapi ketika rindu datang, dia mampu membuatku tersenyum dan memberi rasa berbeda di setiap langkahku.





 Meski rindu terasa menyiksa tapi “dia” adalah anugerah.. nikmati saja..
Rindu itu tidak diatur,  tidak muncul krn disengaja, dan tidak ada yg salah ketika “dia” datang.